SABDO KI JOYOBOYO
Berlakunya tanda jaman selama 500 tahun.
1. + Tahun 1500 M
(Murcane Sabdopalon Noyogenggong)
Maksudnya : Runtuhnya kerajaan Majapahit.
2. + Tahun 1600 M
(Tekane semut ireng anak-anak sapi)
Maksudnya : Kompeni mulai datang ke Indonesia, mulanya berdagang, akhirnya menjajah bangsa Indonesia.
3. + Tahun 1940 M
(Kebo wareg nyabrang kali)
Maksudnya : setelah menjajah selama 350 tahun akhirnya kompeni Belanda meninggalkan Indonesia.
4. + Tahun 1943 M
(Ketekan jago kate wulune kuning sak umure jagung)
Maksudnya : setelah kepergian kompeni Belanda, datanglah penjajah Jepang yang rata-rata berperawakan pendek, berkulit kuning menjajah indonesia selama 3,5 tahun.
5. + Tahun 1966-1998 M
(Kodok ijo ongkang-ongkang)
Maksudnya : munculnya penguasa yang menggunakan kekuatan tentara.
6. + Tahun 2008 M
(Jago tarung ono njerone kurungan) Maksudnya : Sesama aparatur negara saling menjatuhkan, DPR dengan DPR, Polisi dengan Polisi (Pithik mati sak njerone lumbung) Rakyat kecil kesulitan mencari makan di negeri yang kaya raya.
7. + Tahun 2010 M
(Tikus pithi anoto baris) Maksudnya : sekumpulan kecil orang-orang waskitho sedang mempersiapkan barisan untuk menyambut datangnya sang Ratu Adil. Menurut ki Joyoboyo + Tahun 2005-2015 M disebut jaman akhir atau jaman kolo bendu.
Tanda-Tanda Jaman Kolo Bendu
1. Wis ono kreto mlaku tanpo jaran.
(sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda) Maksudnya : Sudah ada kendaraan bermotor.
2. Tanah jowo kalungan wesi.
(tanah jawa dikelilingi besi) Maksudnya : Tanah jawa dikelilingi rel kereta api.
3. Prahu mlaku ing nduwur awang-awang.
(perahu berjalan diatas awan) Maksudnya : Ada pesawat terbang.
4. Kali ilang kedunge.
(sungai kehilangan mata airnya) Maksudnya: kehidupan yang sudah kehilangan sumber ajaran yang benar atau kehidupan yang tidak menggunakan aturan hidup yang benar.
5. Wong wadon nganggo panganggo lanang.
(wanita menggunakan pakaian pria)
Maksudnya : wanita mempertontonkan auratnya, pakaiannya ketat membentuk lekuk tubuh.
6. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane.
(wanita kehilangan rasa malunya, pria hilang rasa kejantanannya) Maksudnya: Banyak wanita bergaya seperti pria (tomboy), dan banyak pria bergaya seperti wanita (banci).
7. Wong wadon nunggang jaran.
(wanita naik kuda) Maksudnya : Wanita tidak bisa menjaga kehormatannya.
SABDO KI RONGGOWARSITO
Tujuh (7) kepastian satrio
1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keter-penjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro).
2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan/kesalahan (Kesandung Kesampar).
3. Satrio Jinumput Sumelo Atur
Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumelo Atur).
4. Satrio Lelono Topo Ngrame
Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup/Rohaniawan (Topo Ngrame).
5. Satrio Piningit Hamong Tuwuh
Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh).
6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro (masa sekarang)
Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman ke-emasan (Pambukaning Gapuro). Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu men-sinergikan dengan kekuatan Sang Satrio Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satrio piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
7. Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu (masa yang akan datang)
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandhito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Alloh SWT yang nantinya mencapai jaman ke-emasan yang sejati. Abah Syarif Hidayatulloh Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Hadiwijoyodiningrat Mohammad Browijoyo Jumeneng Noto, rumahnya sebelah utara Gunung Lawu, sebelah selatan Bengawan solo (Sragen), memiliki alun-alun dan menghadapnya tidak jelas.
Jangka Shri Sultan Browijoyo V
Sabdo Palon Noyo Genggong
Sabdo Palon atau biasa dipahami sebagai Sabdo Palon Noyo Genggong adalah sebuah serat. Ia merupakan oracle atau ucapan sabda seseorang. Serat ini dinisbatkan kepada beliau Shri Sultan Browijoyo V (1468-1560 M) atau Pangeran Bhre Kertabumi. Beliau adalah raja terakhir Kesultanan Majapahit dan sekaligus pendiri Kesultanan Demak Bintoro. Serat Sabdo Palon ini merupakan sebuah pupuh atau kumpulan kidung tembang. Ia dikidungkan dengan pupuh sinom. Yakni sejenis irama kidung yang ditujukan untuk menasihati kaum muda dan orang yang sedang dimabuk kejayaan dunia. Jenis kidung macapat sinom ini diciptakan oleh Sunan Giri.
Namun sebelumnya penting untuk menjelaskan bahwa terjemahan serat ini akan terasa berbeda. Hal ini dikarenakan saya menggunakan terjemahan dari Romo kyahi Cermo Pudjono. Beliau adalah seorang kyahi di Masjid Pathok Nagari Mulangi, Sleman, Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau adalah juga seorang dhalang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah pensiun karena sepuh. Beliau pernah menggelar salah satu lakon sakral. Ketika itu yang diperkenankan menyaksikan hanyalah Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana IX saja. Lakon itu merupakan bagian dari Kakawin Sutasoma, berjudul “Imandaya mukti”.
Menurut beliau kalimat Sabdo Palon Noyo Genggong (pupuh 1 baris terakhir) terjemahnya adalah demikian “sabdo minongko firman, Palon minongko Asmaning Gusti Alloh Tangala Ingkang Moho Hanetepaken, Noyo minongko ulat, Genggong minongko katon edi”. Maka Sabdo Palon artinya firman ketetapan Alloh Tangala. Noyo Genggong artinya akhlak budi pekerti yang indah dipandang mata (qurrota a`yun).
Kata Paduka Sang Nata (pupuh 4 baris pertama) adalah sebutan leluhur bagi Tuhan YME, sebagai Paduka Sang Hyang Girinata. Artinya, Tuhan YME sebagai pengatur dan penguasa jagat raya semesta ciptaan-Nya. Simplifikasi dari Paduka Sang Hyang Girinata menjadi Paduka Sang Nata adalah konsekwensi dari hokum gurulagu dan guruwilangan dalam penulisan tembang macapat jawa.
Sedangkan untuk kata gomobudho (pupuh 4 baris terakhir) saya menggunakan konversi Gusti Kanjeng Sunan Prawoto atau Bathoro Guru. Beliau menyatakan bahwa “ran agomo budho tegese anganggep budi, jatinipun Budho Islam podo ugo”. Jadi gomobudho dalam keseluruhan teks ini tak lain adalah Islam. Namun Islam yang mengutamakan kemuliaan akhlak budi pekerti dan tindakan yang rohmatan lil `alamiin. Bukan agama Islam yang formalistik yang jauh dari firman Tuhan YME (Sabdo Palon). Rupanya Gusti Kanjeng Shri Sultan Browijoyo V sudah menerangai akan terjadinya dekadensi akhlak di kalangan orang muslim Nuswantoro dan atau Jawa.
Berikutnya adalah kalimat Lawon Sapto Ngesthi Aji (pupuh 7). Ini adalah sebuah condrosengkolo. Lawon = mori = kain suci = 7, Sapto = 7, Ngesthi = bakti = permohonan = 8, Aji = haji = 1. Secara kalimat berarti “ permohonan tertinggi dari tujuh orang ulama` ”. Namun kalimat ini juga berarti “ permohonan agung dari seluruh ulama` ”. karena sapto juga berarti banyak sekali atau keseluruhan. Sebagai penunjuk bilangan ia memberi arti 7781 = 1877 saka = 1955 Masehi.
Sedangkan kata Sri Bupati (pupuh 16 baris ke-empat) lazimnya penafsir mengartikan kata dengan Shri Sultan Browijoyo V. Padahal sebutan ini menunjukkan lapisan pemimpin yang berbeda. Ia gunakan untuk menyebut para pemimpin secara umum, yang menghadapi khalayak masyarakat secara langsung.
SABDO SRI PRABU BROWIJOYO
SERAT SABDO PALON SINOM
(1)
Pada sira ngelingana,
Carita ing nguni-nguni,
Kang kocap ing serat babad,
Babad nagri Mojopahit,
Nalika duking nguni,
Sang-a Bhrawijaya Prabu
Pan Samya pepanggihan,
Kaliyan Njeng Sunan Kali,
Sabdo Palon Naya Genggong rencangira.
Ingatlah semua,
Kisah lama ,
Yang tertulis dalam buku-buku babad,
Yakni tentang negeri kesultanan Majapahit,
Pada waktu itu,
Gusti Kanjenng Shri Sultan Bhrawijaya (v),
Mengadakan perjanjian (pertemuan),
Dengan Gusti Kanjeng Sunan Kalijaga,
Membahas Firman Tuhan YME dan budi pekerti mulia.
(2)
Sang-a Prabu Bhrawijaya,
Sabdanira arum manis,
Nuntun dhateng ponokawan,
Sabdo palon paran karsi,
Jenengsun sapuniki,
Wus ngrasuk agama Rosul,
Heh, ta kakang manira,
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya.
Shri Sultan Bhrawijaya (v),
Seorang sultan yang lemah lembut tutur katanya,
Pamomong dan membimbing rakyat kawulanya,
Firman Tuhan menjadi arah tujuannya,
Seluruh keinginannya,
Sekarang pahamlah saya prihal agama Rosulullah Muhammad SAW ini,
Wahai para rakyat kawula yang sangat saya kasihi,
Ikutilah kesucian dari islam,
Lebih baik ini agama islam agama kemulian.
(3)
Sabdo palon matur sugal,
Yen kawula boten arsi,
Ngrasuka agama Islam,
Wit kulo puniki yekti,
Ratuning Dang Hyang Jawi,
Momong Marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jumeneng ing Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti Kulo pisahan.
Dijelaskan dalam Firman Tuhan Yang Maha Menetapkan,
Rakyat kawula jangan sampai meninggalkan,
Menjalankan kesucian agama Islam,
Karena agama islam adalah keyakinan
Seluruh cikal-bakal para raja / sultan di Jawa / Nuswantara,
Membimbing anak cucu,
Semua sultan raja,
Di tanah Jawa,
Jika saya sampai terpisahkan dengan semua itu.
(4)
Klawan Paduka Sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri,
Mung kula matur petungna,
Ing benjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Budha kula sebar tanah Jawa.
Pasti saya akan terpisah dari tuhan YME,
Ketika pulang ke alam ruhani,
Oleh karena itu perhatikanlah sabda saya ini,
Kelak jika saya telah meninggal,
Jika telah datang saatnya,
Genap 500 tahun,
Sejak hari itu,
Saya akan meluruskan agama ini,
Dengan islam (yang menjujung akhlak budi pekerti), dan saya akan sebarkan ke seluruh tanah Jawa / Nuswantara.
(5)
Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajekken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen durung lebur atempur
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
Siapa saja yang tidak meluhurkan akhlak budi pekerti,
Pasti akan dihancurkan,
Mereka menjadi santapan bagi cucu-cucu saya,
Namun yang menetapi berbagai macam kejahatan,
Mereka tidak akan lega hatinya,
Sebelum bertempur hingga hancur lebur,
Saya akan memberikan tanda-tanda,
Tanda sebagai ciri kedatangan mereka kini,
Yakni sebelum itu, gunung merapi meletus akan mengalirkan lahar.
(6)
Ngidul ngilen purugira,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar agama budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Swadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.
Laharnya mengalir ke Barat Daya,
Semua air akan berbau bangkai,
Saat itulah saya akan datang,
Demi menyebarkan kembali Islam yang meluhurkan akhlak budi pekerti,
Menjelang kedatangan atau pemenuhan janji ini,
Seluruh alam akan mengerang,
Sudah menjadi kehendak Tuhan YME,
Bahwa semua kehidupan akan berganti,
Tidak mungkin diubah lagi, andaikan bisa diubah.
(7)
Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapto Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandhang,
Jerone nglebene jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
Saat itu hanya kesengsaraan,
Yang muncul di tanah Jawa,
Pada tahun,
Lawon sapta ngesthi Aji, yaitu tahun 1955 M,
Seperti orang-orang sedang menyebrangi sungai,
Setelah sampai di tengah,
Tiba-tiba datang banjir bandang,
Semuanya hanyut tersapu,
Banyak orang meninggal karena bencana ini.
(8)
Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sedaya prajawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti ana kang akarya.
Mara bahaya akan datang,
Merata keseluruh Jawa / Nuswantara,
Yang demikian itu ditimpakan oleh Allah yang memberi kehidupan,
Maka tidak mungkin ditolak,
Baik di dunia ini,
Maupun kelak di akhirat,
Semua mahluk ciptaan ini,
Merupakan ayat,
Bahwa alam semesta ada yang menciptakan.
(9)
Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi yen beranti,
Saudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.
Macam-macam bencana,
Akan merusakan tanah Jawa / Nuswantara,
Orang-orang bekerja,
Tapi hasilnya tidak mencukupi,
Para priyayi banyak yang sakit asmara,
Para pedagang selalu rugi,
Orang sepertinya rajin bekerja, namun hasilnya tidak berkah,
Pertanian tidak lagi mampu mencukupi,
Hasilnya banyak hilang di hutan.
(10)
Bumi ilang berkatira,
Ama kathah kang ndhatengi,
Kayu kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan risaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tataning janma,
Yen ndalu grimis keh maling,
Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.
Bumi hilang berkahnya,
Banyak hama yang datang menyerang,
Kayu negeri ini banyak yang hilang,
Dicuri orang,
Keadaan akan lebih rusak lagi,
Karena orang saling berebut,
Benar-benar rusak harkat manusia,
Bila malam hari hujan gerimis, banyak pencurian,
Siang harinya banyak perampokan.
(11)
Heru hara sakeh janma,
Rebutan ngupaya mukti,
Tan ngetang anggering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra,
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.
Semua orang mengalami gegeran huru-hara,
Berebut mencari kekayaan,
Pemerintahan tidak mau memperdulikan,
Hati manusia menjadi pedih,
Tertimpa datangnya bala bencana,
Bala bencana yang sangat lama,
Penyakit tersebar,
di tanah Jawa,
Pagi sakit, sorenya mati.
(12)
Kesandung wohing pralaya,
Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angin agung,
Kathah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamon tinon pan kados samodra bena.
Akibat dari semua bencana ini,
Banjir akan datang mencemaskan,
Badai, hujan, angin salah musim,
Angin taufan besar mengerikan,
Pohon-pohon besar roboh semuanya
Diterpa angin taufan,
Ditimpa badai mengamuk,
Sungai-sungai meluap banjir,
Bila dilihat nyaris seperti lautan.
(13)
Alun minggah ing daratan,
Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Kabalebeg katut keli,
Gumalundhung gumludhug suwaranira
Ombak lautan meluap naik hingga ke daratan,
Merusakkan sekelilingnya,
Merusakkan kanan kirinya,
Kayu-kayu banyak yang hanyut,
Yang hidup di pinggir sungai,
Terbawa sampai ke laut,
Batu-batu besar ikut tergulung,
Riuh gemuruh suaranya.
(14)
Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggegirisi,
Gumlegar suwaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Sirna gempang tan wonten mangga puliha.
Gunung-gunung besar pada hancur,
Goncang dan menakutkan,
Menggelegar-gelegar suaranya,
Lahar meluap ke kanan kiri,
Membenam,
Menghancurkan hutan dan desa,
Manusia banyak yang meninggal,
Kerbau dan sapi habis sama sekali,
Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
(15)
Lindu ping pitu sedina
Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warna ingkang sakit,
Awis waras akeh kang prapteng pralaya.
Gempa bumi tujuh kali sehari,
Membuat susahnya hidup manusia,
Tanahpun terbelah menganga,
Manusia brekasakan menetapi kedurjanaan,
Menyeret manusia masuk ke dalam derita,
Manusia mengeluh di mana-mana,
Banyak sekali yang terkena penyakit,
Penyakitnya juga bermacam-macam,
Banyak yang tidak sembuh dan akhirnya mati.
(16)
Sabda Palon nulya mukswa,
Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat iku sayekti tan kena owah.
Jika sudah demikian keadaannya, Firman Tuhan YME menghilang,
Sekejap saja sudah tidak tampak,
Ia kembali ke alam limunan,
Yang paling menyesali diri adalah para pemimpin,
Mereka tidak bisa berbuat apapun,
Sama sekali tidak bisa berbicara,
Tergulung oleh dosa dan kesalahannya,
Menyalahi kehendak Tuhan,
Kodrat itu nyata dan tidak mungkin diubah.
Sunan Prawoto
(35)
Denta ulun salat masjid datan ayun
Punika wong Arab
Balik tiyang Jawi
Salat kula inggih cara bangsa Jawa
Karenanya sholat saya tak hanya di masjid
Itulah orang Arab
Sedangkan orang Jawa
Sholat saya juga menggunakan cara orang Jawa
(36)
Siyang dalu amba Samadhi ing kalbu
Ngestu Wisnu Kresna
Tuwin Sang Hyang Sidajati
Ingsun gayuh campur tunggal lawan kita
Siang malam hamba selalu khusyuk
Mengharapkan Wisnu-Kresna
Serta Sang Hyang Sidajati
Kiranya dapat menyatu dengan-Mu
(37)
Gih punika amba sebut gama putus
Ran agama Budha
Tegese anganggep budi
Jatinipun Budha Islam padha uga
Itulah yang hamba sebut sebagai agama terakhir
Disebut juga sebagai Budha
Artinya memuliakan budi pekerti
Maka sesunguhnya Budha adalah Islam
(38)
Sang Hyang Wisnu Arab tegesipun Rosul
Yen Kresna Muhammad
Allah Sang Hyang Sidajati
Mung bedane tembung Arab lawan Jawa
Sang Hyang Wisnu dalam bahasa Arab disebut Rosul
Sedangkan Kresna disebut Muhammad
Allah disebut Sang Hyang sidajati
Hanya perbedaan antara bahasa Arab dan bahasa Jawa
SATRIO PININGIT SEMAKIN DEKAT
Sabdapalon-Noyogenggong, Satria Piningit, Ratu Adil
Prakata
Sabdalangit salut terhadap segenap upaya generasi bangsa masa kini yang peduli dengan nilai-nilai tradisi dan budaya lokal yang pernah mengantarkan bumi nusantara pada era kejayaannya. Dan berupaya menelusuri jejak sejarah kebesaran para leluhur bangsa yang tengah terpuruk ini. Bagaimana kita dapat menghargai bumi nusantara tanpa kita tahu dan peduli apa yang terjadi, apa dan bagaimana saja perjuangan para leluhur besar di masa silam. Seperti kita ketahui, bangsa ini banyak terdapat kepalsuan sejarah, dari masa sejarah kuno, ordebaru hingga orde reformasi. Negara penuh dengan kepalsuan, kemunafikan, dan pembohongan publik. Bagaimana ‘jiwa dan raga’bangsa ini akan sehat sentosa, sementara konstruksinya terdiri dari ‘daging dan darah’ yang kotor, busuk, bau dan banyak penyakit. Kebenaran ditutup-tutupi dengan ‘cadar’ agama, dengan kekerasan fisik, ancaman-ancaman dogmatis, dengan tindakan-tindakan anarkhis, dengan kekuatan dan kekuasaan yang legal maupun ilegal.Banyak pula yang berani mengklaim diri sebagai pahlawan yang mengaku paling suci dan dijamin menjadi ahli syurga, dan mengaku pembawa ‘obor’ kehidupan dilengkapi dengan bom penghancur ‘dunia kegelapan’, serta mengaku sebagai pembawa ‘tongkat’ penegak kebenaran. Tindakannya hanya menghasilkan kesan kuat dalam masyarakat sebagai wujud moralitas dan tindakan jahiliah/bodoh yang di wajahnya tersirat nafsu angkara murka.
Ironis, tradisi dan budaya luhur moyangnya sendiri dianggap sebagai sumber kesesatan, musyrik, syirik, maka dari itu harus dihancurleburkan agar tidak mengganggu sepak terjang para pengaku ‘utusan’ Tuhan. Sebaliknya, mereka lebih menghargai nilai-nilai tradisi, budaya, dogma, yang diimpor dari leluhur bangsa lain. Namun tampaknya berbagai tindakan mereka yang anarkhis tidak membuat orang-orang bergidik untuk kembali menelaah nilai nilai luhur budaya dan tradisi leluhur kita sendiri yang terbukti pernah membawa pada era kejayaannya.
Sudah menjadi kehendak hukum alam, menjadi rumus Tuhan, bahwa kebenaran tak pernah kalah oleh kebathilan. Sekalipun kebenaran itu datang terlambat. Jika sudah tiba saatnya Tuhan berkehendak, maka tampaklah yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Hanya saja, tugas manusia harus eling dan waspada, sebab datangnya kebathilan, kejahatan, kedengkian, kemunafikan kadang lahir justru dari pemikiran-pemikiran fanatik, tekstual dogmatis, kedangkalan fikir, bahkan unsur manipulasi dalam memahami kitab suci apapun namanya. Jika penelaahannya mengesampingkan anugerah Tuhan paling besar yakni akal sehat, jiwa yang bening, hati yang bersih, atau malah memanipulasinya untuk kepentingan kelompok, golongan dan melegitimasi suatu tindakan brutal dan anarkhis, niscaya agama dengan dogma-dogmanya menjadi instrumen atau alat yang canggih untuk mengancurkan rumus-rumus Tuhan dan tatanan dunia itu sendiri. Manusia lebih sering kesulitan membaca tanda-tanda kebesaran (bahasa) Tuhan. Manusia menjadi tidak menyadari bahwa kebenaran bisa datang tidak selalu melalui dogma agama dan kitab suci, tetapi langsung dari Tuhan melalui bahasa alam. Sayangnya, kita lebih sering menafikkan dan mengingkarinya secara sinis dan membabi buta. Mudah-mudahan seluruh pembaca tulisan ini tidak termasuk tipe manusia demikian. Sebab itu dalam budaya Jawa dianjurkan kepada setiap orang untuk arif dan bijaksana dalam membaca tanda dan gejala alam, sehingga manusia bisa memahami maksud dan kehendak Tuhan, (Jawa:nggayuh kawicaksananing Gusti).
Riwayat Gaib
Menyibak misteri siapa sejatinya sang tokoh kembar bersaudara Sabdopalon dan Noyogenggong. Banyak analisa dan penafsiran yg mendekati pemaknaan yg masuk akal dan dapat menjelaskan secara rinci kronologi dan eksistensi Sabdapalon-Noyogenggong. Prediksi-prediksi atau ramalan yang ditulis sejak zaman dahulu seperti dalam serat Kalatida R Ronggowarsito, Jongko Joyoboyo ing Kadhiri, KPH Cakraningrat, ISKS PB III,IV (serat Centini) dan PB VI berupa sanepan/cangkriman/ tebakan yg sulit ditafsirkan secara harfiah/wadag semata melainkan hrs melalui olah batin yg mendalam. Kecuali KPH Cakraningrat ada juga yg lebih lugas ditafsirkan yakni dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro IV dan Babad Centini sejak PB III s/d PB V, lebih eksplisit anda dapat meraba-raba siapa sebenarnya Sabdapalon & Noyogenggong.
Beliau Sabdapalon dan Noyogenggong bukanlah Satrio Piningit (SP) seperti disebut sebagian orang. Beliau entitasnya sudah ada sejak 2500 tahun lebih, tentu saja sebelum dialektika misteri SP muncul dalam sastra-sastra kuna. Beliau bukan pemimpin atau raja tetapi sosok yang selalu mengasuh (Jawa:momong) kepada setiap raja-raja besar di bumi nusantara. SP konotasinya adalah kesatria yang berperan sebagai pahlawan atau pemimpin spiritual dan negarawan namun statusnya sebagai ksatria sulit disangka diduga. Sebelum beliau memimpin bangsa figurnya sulit terekspose oleh masyarakat umum, kecuali orang yang memiliki mata batin tinggi. SP tidak lain adalah Ratu Adil (RA). SP atau Ratu Adil adalah kesatria yg amat tersamar jati dirinya, maka disebut juga Satrio Piningit. Beliau TIDAK AKAN PERNAH MENGAKU (mengklaim) kepada khalayak apalagi mengekpose dirinya di depan publik sebagai Satrio Piningit atau Ratu Adil. Tetapi orang lain lah yang akan menjulukinya, karena seluruh karakter pribadi dan perjuangannya sesuai dengan misi sang Kalipatullah Paneteb Panatagama, Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, Ratu Adil Herucakra, yang tanda-tandanya telah diungkapkan lebih dahulu dalam prediksi-prediksi kuno. Ratu Adil akan menjadi asuhan penasehat/pembimbing/dahyang para raja-raja besar dan pengasuh seluruh manusia Jawa yakni Sabdopalon dan Noyogenggong. Jadi konsep Sabdopalon-Noyogenggong, dengan Satrio Piningit atau Ratu Adil konsepnya berbeda, berdiri sendiri tetapi memiliki untaian atau rangkaian peranan yang sangat erat. Mereka akan hadir sebagai kepanjangan tangan Tuhan (khalifatullah), pemimpin (imam mahdi/messiah/ herucakra) yang bersifat universal meliputi seluruh agama, bangsa, suku, ras, golongan dalam upaya penyelamatan bumi khususnya bumi nusantara.
Sabdalangit tidak akan membahas panjang lebar tentang konsep Sabdapalon-Noyogenggong. Tetapi akan mengupas makna dalam kiasan sastra kuno, tentang misteri SP atau RA dan kaitannya dengan Sabdapalon-Noyogenggong serta tanda-tanda zaman akan kehadirannya. Puji syukur kepada Tuhan YME, setelah melalui ‘laku’ spiritual yang sangat lama, Sabdalangit telah memperoleh sedikit sekali gambaran dan jawaban atas misteri besar tersebut.
Ratu Adil Berbeda dengan konsep Sabdopalon-Noyogenggong, Ratu Adil memiliki konsep sendiri yang jelas dan tegas. Ratu adalah sosok atau tokoh jenis kelamin perempuan yang menjadi ‘raja’ atau pemimpin, atau negarawan. Menjadi ‘ratu’ atas bangsa ini, dengan dasar sikap adil, bijaksana, jujur dan tegas (senjata trisula wedha) dan ‘pedang katresnan‘ sangat tajam berupa niat suci, dengan lautan kasih sayang. Bernaung di bawah payung kuning (kebenaran). Ratu adil berasal dari gunung srandil (puncak keprihatinan, topo broto, topo ngrame, loro wirang).
Berada di dalam kandungan/rahim ibu selama lebih dari telung podho (3 tahun) sebagai topo brotonya. Jiwanya telah digembleng oleh para leluhur besar bumi nusantara. Ratu adil dari tanah arab (kebetulan agama Islam) yang menegakkan ‘gomo budi’. Gomo budi bukan berarti secara harfiah adalah agama budha, tetapi menjunjung tinggi budi pekerti (Islam:hablum minannas) yang luhur apapun landasan agamanya. (lihat; Betal Jemur Quraisyin Adammakna/kitab betal jemur jilid 7). Kelak bumi nusantara akan adil, subur, makmur, menjadi ‘kiblat’ dunia, pada saat nanti masing-masing suku bangsa akan menghidupkan kembali nilai budaya leluhur bumi nusantara yang pernah mengalami masa jayanya di masa silam. Perbedaan suku, ras, agama justru menjadi bahan untuk membakar semangat Bhineka Tunggal Ika, bermuara pada keutuhan dan kesatuan bangsa, di Bumi Nusantara.
Ciri-ciri Ratu Adil
1. Ratu Adil: ratu memiliki makna seorang perempuan pemimpin nan cantik luar dalam, adil dan bijaksana sebagai pemimpin bumi nusantara menggapai kemakmuran, kesejahteraan, ketenteraman dan kebahagiaan.
2. Seorang yang memakai Nama Tua ; bukan berarti sebutan spt embah, ki, kyai, dst, melainkan nama tua yang sesungguhnya spt misalnya ‘Sekar Kedaton …..’
3. Senjata Ratu Adil; Pedang sirullah (pedhang katresnan) rahsa sejati, senjata ratu adil antara lain berupa ‘pedang sangat tajam’ berupa niat suci dan lautan kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan apa agamanya, suku bangsanya, ras dan golongannya.
4. Di bawah payung kuning; keberanian berdiri di atas dasar kebenaran yang bersifat universal.
5. Lumuh bandha; walaupun Ratu Adil kelak merupakan sosok yang sukses ekonominya dan makmur, sejahtera, tetapi hidupnya tidak gila harta, justru dengan kekayaannya akan didermakan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, sebab Ratu Adil gemar membantu orang-orang yang menderita, kesusahan dan kesulitan.
6. Kalipatullah panetep panatagama; lahir di bumi nusantara untuk mengemban amanat Tuhan YME, sebagai pemimpin yang memberikan banyak pelajaran tentang makna hidup di muka bumi (nusantara) agar supaya manusia mampu memahami makna sejatinya dari agama. Pemahaman agama yang mendalam akan menumbuhkan rasa saling menghargai, bahu membahu, serta membantu seluruh umat beragama agar dapat memahami apa hakikat sesungguhnya agama itu sendiri, sehingga tidak ada lagi konflik antar agama, primordialisme, rasisme, sikap ipokrit. Minimal di bumi nusantara.
7. Bayi calon Ratu adil dilahirkan oleh seorang ibu yg rambutnya sudah keluar uban, didampini dua bayi laki-laki yg wajahnya tampan rupawan sebagai saudara kembarnya. Bayi calon ratu adil lahir dari rahim ibu sekaligus kembar tiga (triplet), satu perempuan di tengah yang dua laki-laki sebagai kakak dan adik kembarnya. Kakak kandung Ratu Adil, sejak masih di dalam rahim ibu sudah terdapat tanda-tanda memiliki talenta luarbiasa dalam bidang medis, sedangkan adik kandung ratu adil, sejak masih di dalam rahim ibunya pula telah memiliki keajaiban super jenius yg kemampuan otaknya tidak bisa diukur. Kelak, sejak lahir ketiganya menjadi aset bangsa Indonesia yang akan mampu membawa kemakmuran dan keadilan seluruh rakyat.
8. Ketiga bayi tersebut, sejak lahir (bahkan sejak dlm kandungan ibu) sudah bisa berkomunikasi dgn ibu dan bapaknya. Sebagai persiapannya menjadi aset besar bangsa dan calon penyelamat bumi nusantara, ketiganya digembleng sejak masih di dalam rahim ibunya tentang berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu ‘linuwih’. Karenanya Ratu Adil sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya). Ratu adil memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.
Sejak masih di dlm kandungan rahim ibu, badan halus/ruhnya, sudah digembleng oleh para leluhur eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara. Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau. Keluhuran budi pekerti Ratu Adil diperoleh dari ibunya yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan. Calon Ratu Adil juga mendapat bimbingan oleh para leluhur garis keturunan dari bapaknya yang dari kalangan rakyat biasa sekaligus keturunan kyai, meliputi kesaktian, sipat kandel, diajarkan pula makna makrifat islam dan hakikat dari semua agama yang ada di bumi nusantara. Ruh calon ratu adil, atas kehendak Tuhan YME, sudah dipersiapkan dan direstui oleh para leluhur besar bumi nusantara, termasuk para raja dan seluruh ratu/raja dari jagad gaib, di antaranya Kanjeng Ratu Kidul, Betara Kala, serta seluruh pembesar dari jagad maya di seluruh bumi nusantara memberikan doa dan memberikan restu kepada Calon Ratu Adil untuk kelak menyelamatkan dan memimpin bangsa ini menuju masa kejayaannya kembali.
PREDIKSI; atas dasar ketajaman
RAHSA SEJATI
Untuk mengurangi kontroversi dan kesimpangsiuran, sejenak Sabdalangit mengulas tentang sejatinya Kanjeng Ratu Kidul. Beliau entitasnya sebagaimana manusia adalah tetap sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Beliau sangat religius, arif bijaksana, juga menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau bukan jin, bukan siluman, bukan sebangsa setan. Kanjeng Ratu Kidul adalah titisan dari bidadari yang diizinkan Tuhan menjadi ratu jagad maya pesisir selatan. Tuhan menciptakan entitas Ratu Kidul supaya menjadi bandul keseimbangan antara alam gaib dan alam nyata. Semestinya antara manusia dengan makhluk gaib, membangun sinergisme; dengan saling “silaturahmi”, menghargai, memiliki hubungan simbiosis mutual, serasi dan harmoni dalam bahu membahu menjaga alam semesta dari kerusakan. Manusia dengan makhluk gaib pada arasnya dapat saling melengkapi, saling mengisi kelemahan masing-masing. Tetapi manusia sering takabur, merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga lebih suka menyia-nyiakan, menghina, aniaya, dan merendahkan, terhadap makhluk gaib (yang juga ciptaan Tuhan) secara pukul rata. Padahal kesempurnaan manusia hanya tergantung akalnya saja. Bila akal digunakan untuk mendukung kejahatan bukankah manusia tidak lebih mulia daripada binatang yang paling hina sekalipun.
Tidak seluruh makhluk gaib itu berkarakter jahat, seperti halnya manusia ada yang berkarakter jahat, suka mengganggu, tetapi ada yang berkarakter baik pula. Tetapi makhluk gaib terlanjur sering menjadi kambing hitam, oleh manusia-manusia “jahat” agar dapat berkilah bahwa mereka melakukan kejahatan karena ulah “si setan”. Bukankah, manusia akan menjadi lebih bijaksana jika mengatakan bahwa manusia melakukan kejahatan karena menuruti hawa nafsunya (NAR/api/ke-aku-an) sendiri yang menjelma menjadi ’setan’. Pembaca yang budiman dapat saksikan sendiri, bilamana bulan suci tiba, setan-setan dibelenggu, tapi kenapa pada bulan puasa tetap saja banyak kasus korupsi, pembunuhan, maling, rampok, penggendam, penipuan, bahkan pernah saya melihat ada orang kesurupan, pernah pula melihat ‘penampakan’!? Mungkin manusia salah mengartikan, setan yang dibelenggu tidak lain adalah nafsu negatif kita sendiri. Dan yang membelenggu hawa nafsu negatif (NAR) tidak lain menjadi tugas kita sendiri, dengan borgol berujud jiwa yang suci (NUR) atau an nafsul mutmainah, dengan artikulasi akal dan budi pekerti yang luhur.
Berbeda dengan konsep Kanjeng Ratu Kidul, adalah Betara Kala disebut-sebut raja makhluk gaib dari ‘dunia kegelapan’. Sebutan itu muncul karena Betara Kala mencari korbannya yakni manusia. Tetapi seyogyanya jangan terburu-buru pada kesimpulan bahwa Betara Kala merupakan makhluk jahat dari dunia gaib yang ‘hitam’. Karakter ‘jahat’nya, karena Betara Kala hanya menjalankan titah atau kodrat Tuhan, sebagai eksekutor/algojo bagi orang-orang yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan termasuk eksekutor bagi orang yang melanggar paugeran dan wewaler. Peranan Betara Kala sama halnya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penyeimbang antara jagad kecil dan jagad besar. Membangun sinergisme antara dunia manusia dengan dunia makhluk gaib. Jika manusia mempercayai peran-peran tersebut, manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari justru membangun sikap religius, kita menjadi lebih hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan yang penuh “ranjau”. Manusia selalu menjaga diri dengan sikap eling lan waspada. Semakin banyak orang lupa diri; tidak eling waspada, suka melanggar wewaler, maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberikan azab, baik dalam bentuk bencana kemanusiaan maupun bencana alam di bumi nusantara.
Sekalipun saat ini semakin banyak orang-orang yang tampak sangat religius, mengaku sebagai pahlawan agama, jago ceramah, namun banyak pula di antara mereka yang sesungguhnya amat dangkal pengetahuannya, ilmunya sebatas “kulit”. Golongan ini tak menyadari jika sedang kekenyangan makan ‘kulit’(syari’at) saja. Selanjutnya muncul gejala semakin gencar manusia tampil sebagai pembela agama baik dengan menghalalkan cara-cara kekerasan maupun pedagog verbal. Semakin banyak jumlah orang-orang yang seolah-olah soleh-solehah, giat pergi ke tempat ibadah, tetapi semakin banyak pula mereka terbukti melakukan perbuatan keji, korupsi, selingkuh, merampok hak orang lain, memperkosa, mencuri, menipu, mencelakai orang, pagar makan tanaman. Tentusaja mereka melakukannya dengan kesadaran sambil mencari-cari dalil yang mengada-ada sebagai alasan pembenar. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, namun jelas-jelas kejahatan besar tidak dihiraukan.
PERTANDA KEDATANGAN CALON SATRIA PININGIT
Jangkajayabaya; Sabda Gaib
Babon asli kagunganipun Dalem Bandara Pangeran Harya Suryanegara ing Ngayugyakarta
Sinom
Wirayat kanthi dahuru, lalakone jaman wuri, kang badhe Jumeneng Nata, amengku bawana jawi, kusuma trahing Narendra, kang sinung panggalih suci.
(Tanda-tanda dengan diawali munculnya huru-hara, kejadian zaman nanti, yang akan menjadi Pemimpin di tanah Jawa (Nusantara), seorang keturunan raja, yang memiliki hati suci.
Ing mangke karseng Hyang Agung, taksih sinengker marmaning, akeh ingkang katambuhan, mung kang para ulah batin, sinung weruh dening pangeran, iku kang saged mastani.
(Di saat nanti, sudah menjadi kehendak Tuhan Maha Agung, tetapi sekarang masih di dalam tabir rahasia Tuhan, banyak orang tidak mengetahui, hanya orang yang mau mengolah batinnya, diijinkan Tuhan mengetahui (sebelum terlaksana), itulah orang yang tiada diragukan lagi)
Dene wontene dahuru, sasampune hardi Mrapi, gung kobar saking dahara, sigar tengahira kadi lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pasisir.
(Sedangkan munculnya huru-hara (ditandai) setelah Gunung Merapi berkobar hebat (meletus) oleh sebab adanya bencana (gempa bumi), (Merapi) terbelah tengahnya seperti sungai, mengalir di dalamnya air (hujan) membawa lahar dingin, arahnya ke tenggara, lahar dingin yang dibawa oleh air, hanyut hingga masuk ke laut selatan.
Keterangan: pertanda ini sudah terjadi pada tahun 2007 lalu.
Glacap Gunung yang bernama Gegerboyo Merapi (punggung buaya) kini tinggal kenangan
ini sebagai salah satu pertanda yang telah diprediksi ratusan tahun silam
Myang amblese Glacapgunung, sarta ing Madura nagri, meh gathuk lan Surabaya, sabibaripun tumuli, wiwit dahuru lonlona, soyo lami soyo ndadi.
(Pertanda punggung G Merapi (populernya disebut punggung buaya atau geger boyo) amblas/longsor. Serta Surabaya dan Madura hampir bertemu daratan.
Keterangan: Geger boyo runtuh terjadi Mei-Juni tahun 2006 setelah terjadi gempa Jogja, disusul letusan Gunung Merapi yang dahsyat.
Pulau atau wilayah Surabaya-Madura hampir bertemu daratan, sudah terjadi karena jebolnya lumpur lapindo yang dibuang ke selat Madura. Penafsiran lainnya; jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dengan Madura atau jembatan Suramadu hampir selesai.
Temah peperangan agung, rurusuh mratah sabumi mungsuhe datan karuwan, polahe jalma keha sami, kadi gabah den interan, montang-manting rebut urip. Papati atumpuk undhung,desa-desa morat marit, kutha-kutha karusakan,
kraton kalih manggih kinkin, ing Sala kaleban toya, Ngayugyakarta Sumingkir.
(Setelah itu terjadi konflik besar, kerusuhan merata di seluruh bumi, penyebabnya tidak jelas, tingkah manusia sama saja, bagaikan gabah ditampi, kocar-kacir berebut hidup. Kematian massal terjadi di mana-mana, desa carut-marut, kota-kota banyak terjadi kerusakan, dua kerajaan (Jogja dan Solo) terjadi musibah, di Solo kerajaannya “terendam banjir”*. Yogyakarta tersingkir**.
Keterangan; *konflik antar pewaris tahta antara Hangabehi dengan Tejowulan,
**sementara Keraton Jogja tersingkir karena tidak mendapatkan anak laki-laki sebagai Pangeran Putra Mahkota calon pewaris tahta.
Saat ini sudah terjadi.
Ratunya murca sing Kraton, ngilang kalingan cecendis, sanget kasangsayanira, wus karsaning Hyang Widi, gaib ingkang kelampahan, kinarya buwana balik.
(Ratu/rajanya meninggalkan keraton, kemasyhurannya kalah dengan gaung keonaran para penghianat, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan, gaib yang terjadi, membuat keadaan zaman serba terbalik.
Jangka Jayabaya ; Catursabda
Pethikan seratan tangan
Kangge sambetan jangka triwikrama
Pameca wontening jaman dahuru, tuwin rawuhipun ratu adil panetep panatagama kalipatullah. Pamecanipun sang prabu Jayabaya ing kadhiri. Kulup ingsun mangsit marang sira, yen ing tembe tanah Jawa wis kesingget-singget saenggon-enggon, desa-desa wus sigar mrapat, pasar-pasar ilang kumarane, kali ilang kedhunge, kereta tanpa turangga, lan ana satriya teka kang putih kulite, saka kulon pinangkane, nuli ana agama tatakonan padha agama.
(Mencermati terjadinya zaman kesengsaraan, hingga kedatangan Ratu Adil panetep panatagama, utusan Tuhan. Kewaskitaan Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri. Anak-anakku, ingsun berpesan (secara gaib) kepadamu, bilamana kelak tanah Jawa (nusantara) telah terpilah-pilah, pasar (tradisional) kehilangan gaungnya, sungai-sungai semakin surut airnya, kereta tanpa kuda, segera datanglah kesatria berkulit putih, dari barat asalnya, sejak itu terjadi perselisihan antar agama)
Apamaneh dhayoh mbagegake kang duwe omah, ana kebo nusu gudhel, endah-endah cacahing gendhing sekar kaendran, sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, sanajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik,
lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil panetep panata agama kalipatulah utusan kang ngemban dhawuhing Allah, paribasane sumur marani timba, guru luru murid, prajurit ngunus pedang katresnan,
(apalagi (pertanda) tamu mempersilahkan tuan rumah, orang tua berguru pada yang muda, muncul beragamnya nyanyian dan musik yang populer, seketika itu pula banyak orang Jawa yang berkacamata tempurung (walaupun melotot, tetap tidak bisa melihat), tahi lalat di wajah (yang nyata ada pada diri sendiri tidak dapat diketahuinya), nah di situlah anakku, tidak lama lagi akan mulai tampak tanda-tandanya siapa yang akan menjadi calon Ratu Adil, utusan yang mengemban perintah Tuhan, diumpamakan sumur mendatangi timba, guru berburu murid, prajurit menghunus pedang kasih sayang)
nanging akeh wong-wong kang padha mangkelake atine, nyumpelake kupinge, ngeremake matane.
(tetapi banyak orang-orang yang membuat kesal hati, mentulikan telinganya, dan menutup mata (tidak peduli).
Nanging sapiro anane wong kang melek, padha ngrungu lan padha anggarubyung tut wuri lakune cacala mau mesthi slamet.
(tetapi seberapapun adanya orang yang peduli, mau mendengar, dan mengikuti jejak langkah Ratu Adil, maka mereka pasti selamat hidupnya)
…….awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha manungsa rewa-rewa anggawa agama, dhudhukuh ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit timur mula.
(….sebab sebelum RA datang, di tanah Jawa (nusantara) muncul “setan” berlagak manusia “berbulu” lebat mengaku pembela agama, menetap di “glasah wangi” menjadikan manusia berganti tatanan, menyebabkan datangnya kegelapan, karena orang-orang meninggalkan tradisinya, lalai sejak masih muda)
Mulane wekas ingsun marang sira, sira kang ngati-ati, krana gusti sang ratu adil, lagi tapa mungsang ana sapucuking gunung sarandhil,
(Maka pesanku pada kalian, kalian harus berhati-hati, karena gusti sang Ratu Adil baru melakukan penempaan diri dalam ‘pertapaan’nya)
mung gagamane bae golekana kongsi katemu, awit ing tembe bakal ana jumeneng ratu kang padha baguse, padha pangagemane lan iya padha paraupane, lah ing kono para wong-wong padha pakewuh pamulihane, satemah padha bingung,
(..hanya saja, carilah “senjata”nya (RA) sampai ketemu (budi pekerti luhur), sebab kelak bakal ada berdiri ratu yang sama cakapnya, sama pakaiannya dan juga sama wajahnya, nah di situlah orang-orang akan merasa malu sendiri, sebagian yang lain kebingungan (ket: karena orang yang sangka calon SP ternyata bukan).
Keterangan; Cermatilah ciri-ciri Ratu Adil sejati, karena ada yang seolah dianggap sebagai Ratu Adil, padahal ia palsu. Maka banyak orang yang menyangka, lantas menjadi malu dan bingung telah salah sangka.
…nanging luwih beja wong kang wis mangerti kang dadi pangerane, mulane sira kulup, dipoma aja nganti lali marang tetengering sang ratu Adil panetep panata gama.
(…tetapi lebih beruntung orang yang sudah mengerti siapa yang menjadi pemimpin dan panutannya, makanya kalian semua jangan sampai lupa akan ciri-khas atau tanda khusus siapa sang Ratu Adil panetep panata gama).
Dene sira wis ketemu aja nganti sira katilapan, tutu buriya ing satindake lan embunan tumetesing banyu janjam, mesthi slameta langgeng ing salawas-lawas…mung iki piweling ingsun marang sira kulup, poma den estokna.
(jika kalian sudah bertemu (calon SP), jangan sampai kalian terlena, ikutilah jejak langkahnya, pasti selamat, abadi selamanya…hanya ini pesan ku kepada kalian semua, maka patuhilah)
Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan
Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil;
(Tanda-tanda kehadiran Ratu Adil sudah dekat):
Padha kaping 1
Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.
(Kelak, pada saat Ratu Adil “imam mahdi” (pemimpin umat manusia) ”dari tanah arab” (semacam kiasan: orang asli Indonesia tetapi kebetulan beragama Islam) sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah; tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengamalannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh.
Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh:
Tanda-tanda jika datangnya Ratu Adil sudah dekat sekali;
1) yen sasi sura ana tundhan dhemit.
(bulan sura ini terjadi pada sekitar Januari-Februari 2007, sebagai bulan sura duraka, di tahun kalabendu; maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat, laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)
2) srengenge salah mangsa mletheke.
(awal 2007 matahari terbit setelah jam 06.00 wib; seharusnya terbit mulai jam 05.30 wib)
3) rembulan ireng rupane
(dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara).
4) banyu abang rupane.
(awal bulan februari 2007 hampir diseluruh wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3-5 hari)
Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.
(tengara ini 3 hari lamanya, bila sudah terdapat tengara itu, mulai memasuki zaman di mana semua orang akan ditanyai, yang tidak bisa menjawab bakal menjadi makanan makhluk halus, sebab ratu Adil kedatangannya membawa berjuta malaikat, jin dan makhluk halus (siluman) banyak tak terhitung.
Keterangan; semua orang “ditanyai”; dalam arti disodorkan dua pilihan, ingin jalan yang baik dengan mengikuti langkah RA atau memilih jalan kegelapan dengan menentang RA. Yang tidak bisa menjawab, berarti termasuk orang-orang menentang kedatangan RA utusan Tuhan. RA dibimbing dan dituntun (jangkung dan jampangi) berjuta leluhur bumi nusantara (mayuta malekat), sedangkan orang-orang yang melawan RA akan mendapatkan celaka sebagai hukuman tuhan.
Padha kaping 2
Dene pitakone lan wangsulane mangkene;
(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)
asalmu saka ngendi = saking kodratulah,
yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat islam,
apa kowe weruh aranku = Gusti Ratu Adil Idayatullah,
apa agamamu = sabar darana,
apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu adil Idayat Sengara,
apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake = Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.
Keterangan: ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk Islam. “berbaju” Islam tetapi memperoleh “makrifat” seluruh agama di bumi.
Dari mana asalmu ? Jawab; atas kehendak Gusti Allah. Ratu adil lahir di bumi nusantara, sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika ‘pulang’ mempertanggungjawabkan tugas manusia sebagai utusan Tuhan, bekalnya adalah ikrar janji dan menepati janjinya, sebagai manusia yang menggapai makrifat. Kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.
Apa kamu tahu namaku? Jawab; gusti Ratu Adil pembawa petunjuk dari Tuhan.
Apa agamamu? Jawab; kesabaran yang seluas samudera.
Apa kamu tahu bapakku? Jawab; gusti Ratu Adil Idayah Sengara, orang selalu mengutamakan keadilan dan keluhuran budi pekerti, dan hidupnya berada selalu dalam ‘laku prihatin’.
Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab; Dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawahnya pohon cemara putih.
Maknanya; dilahirkan oleh seorang ibu yang berbudi pekerti amat luhur, suci hatinya, bersih lahir batinnya, cerdas pikirannya. Lahir di bawah (pohon) cemara putih, artinya RA dilahirkan dari rahim seorang ibu yang rambutnya sudah mempunyai uban, atau seorang ibu (yang secara teori), sudah tak mungkin bisa melahirkan anak.
Jangka Jayabaya
Salebare Raja Kuning
Babon asli kagungan Dalem
Bandara Pangeran Harya Suryawijaya
ing Ngayugyakarta
padha kaping 16
Ana ratu kinuya-kuya, mungsuhe njaba njero, ibarate endhog ngapit sela, gampang pecahe, nanging rineksa Hyang Suksma, mungsuhe kaweleh-weleh,
(ada ratu yang teraniaya, musuhnya luar dalam, ibarat telur terhimpit batu, mudah pecah, tetapi selalu dijaga keselamatannya oleh Tuhan, sehingga musuhnya menanggung malu sendiri)
ratu mau banget teguhe kinuya-kuya ora rinasa, malah weh suka raharja, kaesa mbelani negara sigar semangka, ambeg utama tan duwe pamrih, mung netepi kasatriyane, tambal bandha mau, mung ngengeti kawukane,
(ratu tadi sangat tabah teraniaya tidak dirasakannya, sebaliknya memberikan kesejahteraan kepada yang menganiaya, demi membela negara secara adil seperti membelah semangka, budi pekertinya yang sungguh mulia tidak memiliki pamrih, hanya memenuhi tanggungjawabnya sebagai kesatria (kodratulah), bersedia mengeluarkan hartanya karena ingat sejatinya tugas dan tanggungjawab manusia lahir ke dunia (sangkan paraning dumadi).
ratu mau putrane mbok randha kasiyan, kawelas arsa wit timur mial, sinuyudan mring pra kawula,
(ratu tadi putranya ibu yang (lama) menjanda dan selalu prihatin dan teraniaya, namun penuh belas kasih sejak usia muda, sehingga sangat disayangi dan hormati oleh banyak orang)
ratu mau ijih sinengker Hyang Widhi, mapan samadyaning rananggana, sajroning babaya, minangka tapa bratane, kesampar kesandhung nora kawruhan, kajaba wong kang wis kabuka rasane, meruhi mas tulen lan kang palsu, ing kono katon banyu sinaring, wong becik ketitik ala ketara, wong palsu mecucu.
(ratu tadi masih disembunyikan oleh Tuhan, bertempat di dalam wahana rahasia Tuhan, di antara berbagai marabahaya, sebagai wujud tapa brata-nya, dianggap remeh dan tidak disangka oleh banyak orang, kecuali orang yang sudah terbuka rasanya, mampu mengetahui mana emas tulen dengan yang palsu, kebenaran ibarat air yang tersaring, orang baik akan tampak baiknya, orang jahat akan terlihat jahatnya)
Begjane wong sing padha eling, cilakane kang padha lali. Sing sapa krasa lan rumangsa, bakal antuk kamulyan lan karaharjan.
(beruntung bagi orang yang selalu ingat, celaka bagi yang lupa diri. Barang siapa yang dapat mawas diri, tahu diri, bakal mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan)
pada kaping 17
nuli ana ratu kembaran atismak bathok,
(kemudian ada ratu yang lahir bersama-sama saudara kembarnya,(atismak bathok = senajan melorok ora ndelok artinya walaupun orang bertatapan atau bertemu langsung, tetapi tidak menyadari bahwa dialah sesungguhnya calon RA dan saudara-saudara kembarnya)
dhepe-dhepe marang wong pidak pedarakan,
(Menjadi anak yang berlindung kepada bapaknya dari kalangan rakyat biasa)
nagara dadi siji, pinilih endi kang asih
(negara bersatu dalam kesatuan, akan terseleksi siapa yang mencintai negara)
pada kaping 19
ahire Pangeran anitahake, ratu adil imam mahdi, iya putrane mbok randha kasiyan, kang kesampar kesandhung, durung kinawruhan, ijih sinengker Hyang Widhi.
(akhirnya Tuhan mengutus, ratu adil imam mahdi, yakni putranya “mbok randa kasiyan” yang terlunta, belum terungkap jati dirinya, masih dirahasiakan Tuhan)
Keterangan: akhirnya Tuhan mencipta dan mengutus ratu adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusian dan bencana alam,
Ia adalah putrinya seorang ibu yang hidupnya selalu dalam lara lapa (penderitaan batin) tetapi banyak dikasihi orang dan menjadi tempat berlindung orang-orang yang lemah dan menderita. Seorang ibu yang hidup lama menyendiri seperti ‘menjanda’ karena perjuangan hidupnya sebagai single parrent dan single fighter, dalam kurun waktu lama puluhan tahun, kemudian bertemu laki-laki yang menjadi jodoh sejatinya (garwa), juga calon ayah sang ratu adil. Tetapi di mana mereka sekarang tidak banyak diketahui orang keberadaanya, karena masih tengah ‘menyamar’, dan dalam ‘persembunyian’ di dalam perlindungan Tuhan.
Hanya orang-orang yang beruntung, juga orang-orang linuwih yang memiliki kawaskitan sangat tinggi yang dapat mengetahui sejatinya siapa ‘mbok rondo kasiyan’, bapaknya, dan calon ratu adil, dan di mana keberadaannya pada saat ini.
pada kaping 20
Ratu iku asikep mbelani bangsa tansah ana samadyaning ranggana, nanging setengah ijih dadi buburon, marga dicurigani dening jaba jero,
luwih-luwih para pidak pedarakan sebab yen iku katon bakal mbabarake sakehing lalakon kang oran bener,
temah ora bisa kakeeh utawa aji mumpung, Karsa Allah wus cedak titimangsane,
arep binabar kanggo mlerat sakehing piala kang rumangsuk samungsa Jawa.
Babare (lahirnya) ratu iki mawa gara-gara sindhung riwut karawati ngakaka,
kilat thatit liliweran bledeg ngampar-ampar, kasusul panjebluging gunung Tidhar,
sasideming gara-gara, ing jagad padhang sumilak, pangeran paring pangapura, kang pepulasan melecet pulase, katon sawantahe, kang emas katon emas, kang timah katon timah, satriyo katon satriyo, kere katon kere, kang ala ketara, kang becik ketitik, kang salah seleh, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Ratu mau ambleg utama, lumuh bandha, dahare mung sajung, marga saking welas asih mring kawula.
Julukane imam mahdi iya Kalana jayeng palugon, akedhaton ing grjiwati, tengah-tengahing bumi Mataram,
saiki kasangsaya lagi tarakbrata anglindhung mring pra kawula, entenana den saranta kalayan madhep Hyang Suksma.
Dene rawuhe Ratu Adil iku saka lor kulon, mulih mring pakuwone, ing kono mulyaning Nungsa Jawa, harja Kreta tan ana sakara-kara.
Mohon maaf; Silahkan anda telaah sendiri!
Kapan lahirnya calon ratu adil dapat dipahami dari tanda-tanda kehadiran kembali Sabdapalon-Noyogenggong. Sebab tugas Sabdapalon-Nayagenggong kembali hadir di bumi nusantara adalah dalam rangka mendampingi dan momong sejak Ratu Adil lahir dari rahim ibunya. Jika dilihat tanda-tandanya maka pada saat ini sudah dekat kelahiran sang ratu adil;
Jangka Jayabaya
Sabda Gaib
KPH Suryanegara ing Ngayugyakarta
SINOM
1. Sesotyaning tanah Jawa. Oncat embananeki, owahing kang tata cara, golongan patang prakawis, aluluh dadi siji angrasuk kasudranipun, nagara tanpa tata, mung ngluru kasil pribadi, tingalira tumuju salak rukma.
2. Kusuma taruna tama, mbeg suci ngupala wening, linawuran dening Allah, wus mantun denya piningit, kinen anyapih sami, kang samya gung perang pupuh, lan nyirnaken durmala, mamalaning Nungsa Jawi, gya tumindak nglakoni pakoning Allah.
3. Ngrabaseng prang mung priyangga, prasasat tan ngadu jalmi prajurite mung sirolah (baca;sirullah), tutunggaleng langgeng eling, parandene kang san ara mangsah kabarubuh, duhaka tutumpesan, tan lami pan sirep sami, ginantyaning ing jaman kreta raharja.
4. Pan wus ilang malaningrat, sinalin tulusing becik, lire murah sandang tedha, durwiala, dursila enting, enak atine sami, wong Jawa sadayanipun, sawusnya tentram samya, neng gih Sang Satriya Suci, pan jinunjung wong ngakathah madeg nata.
5. Ambawani tanah Jawa, julukira Narpati, Kanjeng Sultan Herucakra, ugi kangjeng Ratu Adil, kawentar asmaneki, tekeng tanah Sabrang kemput, tuhu musthikeng jana, nyata kekasihing Widhi, mila tansah pinuji mring wong sajagad.
6. Duh sanggyaning sanakingwang, mangga sami den titeni, dora tanapi temenya, ujare wirayat gaib, mugi saget netesi, yeku pitulungan agung, nging kedah sawi srana, sranane tobat mring Widhi, tobatira mung suci manah raharja.
7. Wirayat gaib kang weca, yekti nora cidra pasti, rawuhaw Sri Herucakra, lamun para pamugari, kang ngasta pusaraning, Tanah Jawa sami emut, marang para kawula, nanging yen katungkul sami salah wengweng rerebatan mas salaka.
8. Yen mangkono pasti gila, Herucakra Ratu Adil, nora teka malah lunga, sarwi nabda nyupatani, dhuh Allah mugi-mugi, maringi enget pukulan, mring pra manggaleng praja, suci jujur eka kapti, yen mangkono Ratu Adil enggal prapta.
Jangka Jayabaya ‘Sabdapalon’
Babon asli Kagungan Dalem
Bandara Pangeran Harya Suryanegara
ing Ngayugyakarta
Sinom
pada kaping 5
…….pratanda tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar
(…pertanda kadatanganku, Gunung Merapi bila telah meletus keluar lahar)
pada kaping 6
ngidul ngetan purug ira, ngganda banger ingkang warih, manggih punika medal kula, wus nyebar gama budi, Merapi jangji mami, anggereng jagad satuhun Rarsanireng jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging kalamunta kaewahan.
(ke tenggara arahnya, berbau busuk airnya, itulah tanda kedatanganku, sudah mulai menyebar ajaran budi pekerti luhur, Merapi adalah janjiku, bumi bergemuruh menjadi hukuman Tuhan, semua bergilir silih berganti, tidak dapat dipungkiri dan dirubah lagi)
Keterangan: Tahun 2007 merapi sudah meletus ke arah tenggara (selatan-timur) yakni ke arah kali Kuning, laharnya menimbun sungai terbawa air hujan menyusuri sungai tanggung (tidak besar tidak kecil), memisahkan tanah antara Kraton Yogya dan Solo, dan di pertengahan 2007 lahar dingin merapi telah sampai di pesisir selatan masuk kedalam lautan. Peristiwa ini baru terjadi sekali pada tahun 2007.
Kawah Gunung Merapi
Saat meletus dahsyat 7 Juni 2006 atau seminggu setelah gempa Jogja. Tampak kawah sudah jebol ke arah tenggara. Baru kali ini terjadi fenomena seperti itu. (+- 500 tahun setelah Sabdapalon Nayagenggong muksa)